Papua, aspirasidirect.com – Sebuah momen sederhana namun penuh makna terjadi di tengah tugas seorang prajurit TNI di pedalaman Papua. Dalam suasana santai, sang prajurit mengajak seorang anak Papua untuk menjerat burung di hutan, sebuah aktivitas yang kerap dilakukan masyarakat setempat.
Namun di luar dugaan, ajakan tersebut dijawab dengan kalimat yang begitu menyentuh. Anak itu menolak dengan polos namun sarat empati. Ia mengatakan bahwa jika anak burung sampai terjerat, induknya pasti akan bersedih dan terus mencarinya.
Lebih jauh, sang anak mengibaratkan perasaan itu dengan kondisi manusia. Menurutnya, jika seorang prajurit diculik, tentu orang tua dan keluarganya akan menangis, merasa kehilangan, dan hidup dalam kesedihan. Perbandingan sederhana itu seketika membuat suasana menjadi hening dan penuh perenungan.”Ungkap keterangan prajurit.(2/1).
Jawaban tulus tersebut bukan hanya mencerminkan kepolosan seorang anak, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya nilai empati dan rasa kemanusiaan yang tumbuh dalam diri anak-anak Papua. Tanpa teori atau nasihat panjang, ia mengajarkan makna kasih sayang, rasa kehilangan, dan pentingnya memahami perasaan makhluk lain, baik manusia maupun alam.
Bagi sang prajurit, momen itu menjadi pengingat bahwa tugas menjaga negeri tidak hanya soal keamanan, tetapi juga tentang memahami kehidupan, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat.
Kisah ini pun menjadi refleksi bagi banyak orang: bahwa empati bisa lahir dari kalimat paling sederhana, dan pelajaran hidup terkadang datang dari mereka yang paling polos namun berhati paling tulus.(tim).









