Bekasi, aspirasidirect.com
Di balik dinding sederhana sebuah rumah di kampung Plaukan , Desa Karangrahayu, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, tersimpan sebuah kisah perjuangan sunyi yang menggetarkan hati. Ibu Sartina (67), seorang nenek yang telah memasuki usia senja, berdiri kokoh layaknya karang di tengah lautan ujian hidup. Tanpa mengeluh, ia mendedikasikan seluruh sisa kekuatannya demi merawat sang cucu tercinta, Gusti Kurniawan, yang kehilangan kemampuan berjalan sejak belasan tahun silam akibat sebuah insiden tak terduga di masa kecilnya.
Petaka Sabtu Sore di Tahun 2013
Lembaran duka kehidupan keluarga ini bermula pada suatu hari Sabtu di tahun 2013. Kala itu, Gusti yang baru menginjak usia tujuh tahun sedang menikmati hari-hari pertamanya sebagai murid kelas satu di Sekolah Dasar Negeri Karangrahayu (SDN) 03. Sepulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB, semuanya tampak berjalan biasa tanpa ada tanda-tanda kejanggalan.
Namun, takdir seketika berubah haluan saat sore menjelang. Sekitar pukul 17.00 WIB, Gusti tiba-tiba menjerit histeris dalam tidurnya. Begitu terbangun dari ranjang, bocah riang tersebut didapati dalam kondisi lumpuh total, tak lagi mampu menggerakkan kedua kakinya.
Belakangan, sebelum petaka sore itu terjadi, Gusti sempat bercerita secara polos kepada sang nenek. Di perjalanan pulang sekolah, ia sempat didorong oleh salah seorang temannya hingga terjatuh saat hendak bersalaman. Siapa nyana, jatuhnya tubuh mungil Gusti menjadi awal dari ujian fisik terberat yang harus ia pikul sepanjang sisa hidupnya.
Liku-Liku Ikhtiar Melawan Takdir Medis
Melihat sang cucu yang tiba-tiba tak berdaya, Ibu Sartina tidak tinggal diam. Berbagai upaya pengobatan ia tempuh demi melihat Gusti kembali melangkah. Langkah awal membawanya ke pengobatan tradisional dan urut karena dugaan awal adanya masalah pada bagian pinggang. Perjalanan ikhtiar itu menuntun mereka menemui praktisi alternatif seperti Pak Dayat, Pak Warja, hingga pengobatan spiritual bersama Ustaz Bima di kawasan Muara Bakti.
Tak hanya jalur alternatif, penanganan medis pun diupayakan secara maksimal. Gusti sempat dilarikan dan menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibitung. Pemeriksaan berlanjut hingga ke konsultasi intensif dengan dr. Ijun, seorang dokter spesialis yang juga berpraktik di daerah Cipto, Cikarang. Dari hasil pemeriksaan ahli saraf, terungkap diagnosis medis yang memilukan: Gusti mengalami kerusakan parah pada serabut saraf ekor, aringan halus menyerupai rambut yang saling terbelit rumit, sehingga sangat mustahil untuk direhabilitasi atau dipulihkan kembali ke kondisi semula.
”Waktu itu kami sempat disarankan untuk melakukan pemeriksaan MRI di RS Siloam. Namun, apa daya, biayanya sangat besar, minimal harus memegang uang Rp20 juta karena saat itu belum tercover oleh BPJS. Angka yang sangat mustahil bagi kami,” kenang Ibu Sartina dengan mata berkaca kaca.(17/7).
Bertahan di Tengah Impitan Ekonomi
Kini, bertahun-tahun telah berlalu, Gusti tumbuh menjadi remaja yang sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain. Ia menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur atau kursi roda, serta memerlukan pampers setiap hari. Kendati fisiknya terkunci oleh kelumpuhan, semangat hidup Gusti tidak padam. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas berkomunikasi, ramah, dan kerap mengisi hari-harinya dengan bermain game online (seperti Mobile Legends) di ponselnya, sebuah jendela kecil yang menghubungkannya dengan dunia luar.
Bagi Ibu Sartina, merawat Gusti di usia 67 tahun adalah sebuah perjuangan fisik sekaligus batin yang luar biasa. Di saat sang ayah dari Gusti harus bekerja jauh di luar kota demi mengais rezeki yang tak seberapa, Ibu Sartina menjadi garda terdepan yang mengurus segala kebutuhan harian Gusti seorang diri. Keterbatasan ekonomi memaksa mereka hidup sangat hemat, bergulat setiap hari demi memastikan pampers dan obat-obatan esensial bagi Gusti selalu tersedia.
Meski didera kesulitan yang bertubi-tubi, Ibu Sartina memegang teguh prinsip hidupnya untuk tidak pernah meminta-minta atau mengemis belas kasihan. Baginya, harga diri dan rasa syukur adalah benteng terakhir yang harus dipertahankan. Ia memilih berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Yang Maha Kuasa sembari terus melangkah dengan apa yang ia miliki saat ini. Kisah ketegaran dari sudut Karangrahayu ini menjadi pengingat mendalam tentang kekuatan cinta seorang nenek yang melampaui batas-batas kemustahilan fisik dan materi.(s).









